Oleh: emilsalim27 | 29 Februari 2016

Keindahan yang Tersembunyi di Dataran Tinggi Kab. Gowa (Air Terjun Cinta)

Air Terjun Cinta

         Awal mula melakukan perjalanan ini karena mendapat info dari media sosial yang mengatakan di Kab. Gowa terdapat sebuat air terjun yang indah dan orang-orang menyebutnya air terjun cinta. Sebagai warga gowa saya tertarik melakukan perjalanan mengunjungi air terjun tersebut, maka dari itu pada hari sabtu 27 Februari 2016 saya mencoba mengajak sahabat saya anto untuk melakukan perjalanan weekend mengunjungi air terjun tersebut. Namun pada minggu pagi cuaca kurang mendukung maka rencana kami batalkan. karena rasa penasaran saya mengajak lagi sahabat saya pada hari senin 29 Februari 2016.

    Tepat hari ini dengan modal informasi dari media sosial yang meyatakan di  air terjun tersebut berada di Kec. Manuju Kab. Gowa dengan ucapan Basmalah saya dan sahabat saya pun berangkat melakukan perjalanan.

        Rute yang saya lewati untuk menuju Kec. Manuju yaitu dengan melalui jalan poros malino bendungan bili-bili. Singkat cerita saya tiba di Kec. Manuju karena informasi yang saya dapatkan kurang lengkap saya pun bertanya kepada warga lokal. Daerah manuju ternyata sepi jarang ada warga yang melintas karena mayoritas warga disini pekerjaan berkebun. Tidak berapa lama saya melanjutkan perjalan ada seorang warga yang melintas dengan menggunakan topi terami tapi bukan Manusia Karet dalam Serial kartun One Piece😀, saya pun menghampiri beliau dan bertanya dengan menggunakan bahasa lokal “kemae rinni anjo nia air terjun daeng lope?” (artinya: Dimana disini ada air terjun cinta daeng?. Ternyata bapak tersebut tidak mengetahui atau mungkin saja air terjun tersebut memiliki nama lain. Saya terikat kata bijak yang pernah saya baca di buku (lupa judulnya…hehehe) “ikuti kata hati mu karena hati tidak pernah bohong dan menunjukkan kepada jalan yang benar” saya pun melanjutkan perjalanan dengan mengikuti kata hati saja…hahaha. Cukup lama menikmati perjalanan di tengah hutan yang rimbun dengan udara pedesaan yang masih segar tanpa adanya polusi udara kendaraan tidak terasa waktu pun menunjukkan jam 12 siang dan tempat yang kami cari pun belum di ketahui. Saya dan anto pun mencari masjid untuk salat duhur sekalian istirahat dan alhamdulillah tidak sulit untuk mencari masjid daerah manuju. Setelah salat duhur dan istirihat saya pun melanjutkan perjalanan mengikuti kata hati😀. Tidak berapa lama saya berpapasan dengan seorang pemuda dan bertanya “dimana disni air terjun cinta?”. pemuda itu pun menjawab “oooh air terjun bengo massima’rangan di Desa Tamalatea itu, salah arah ki ini tembus di Jeneponto kembali ki klo dapat ki jembatan belok kanan”. Ternyata oh ternyata aku tersesat dan tak tau arah jalan, hampir jadi lagu “Butiran Debu”….hahaha. Saya pun langsung putar arah mencari daerah Desa Tamalatea.

         Ada sedikit cerita pada saat perjalanan menuju Desa Tamalatea kami berpasasan dengan sekelompok anak SD yang baru pulang dari sekolah tapi ada yang aneh setelah kami berpasasan anak-anak tersebut mereka malah lari ketakutan bahkan ada bersembunyi di semak-semak. saya pun bertanya-tanya ada apa?. Saya pun berpikir mungkin juga karena penampilan saya yang mirip Bradpitt…(hehehe) atau malahan mirip robot karena memakai helm & buff penutup mulut sehingga hanya mata saya yang keliatan, mungkin karena itu. Saya pun melepas buff dan membuka kaca helm dan tidak berapa lama saya berpasasan lagi dengan sekelompok anak SD tapi mereka pun kini tidak takut. Seketika saya pun teringat mungkin saja karena anak-anak tersebut telah di doktrin oleh orang tua mereka kalau pulang sekolah harus pulang cepat karena biasa ada patado’-tado (artinya: Pencuri anak-anak) sehingga anak-anak merasa ketakutan kalau bertemu orang yang baru di lihatnya. Sebagai saran untuk orang tua sebaiknya jangan membimbing anak-anak seumuran SD dengan cara tersebut karena dapat membuat anak-anak ketakutan kalau bertemu orang baru.

kenapa saya malah membahas masalah anak-anak? bingung saya…hahaha.

Singkat cerita akhirnya sampai juga di Desa Tamalatea tapi saya belum mengetahui lokasi air terjun tersebut. Saya pun melihat beberapa ibu-ibu yang asik duduk ngerumpi dan saya menghampiri mereka ikutan ngerumpi…hahaha (bertanya maksudnya bisa sampai malam kalau ikut ngerumpi :D). Saya pun bertanya kepada mereka “ibu kullea ku ta’nang kemai rinni air terjun massimarangan?” (artinya: ibu boleh saya bertanya, dimana disini air terjun massi’marangan) ibu itu pun menjawab “disana nak dekat jembatan masuk kita bertanya saja sama rumah kayu dekat jembatan”. Saya pun bergegas menuju rumah kayu yang dimaksud. Sesampai disana saya pun disambut oleh ibu (saya lupa namanya) dan mengatakan “kalau kita mau ke air terjun harus jalan kaki sekitar 2 km lagi, tunggu saja anakku nanti dia antar ki”. kami pun disuruh menunggu anaknya ibu tersebut dengan diberikan segelas minuman dan jagung bakar. ternyata warga desa tamaletea begitu baik dan ramah. Tidak menunggu lama anak ibu tersebut akhirnya datang juga. Dia langsung mengajak saya & anto untuk menunjukkan jalan ke arah air terjun tersebut.

         Dengan semangat, saya & anto mengikuti anak nya ibu tersebut sambil bercerita menanyakan jalur yang akan kita lalui nantinya dan namanya. Ternyata nama anak tersebut Ical duduk di kelas 2 SMP dia menjelaskan jalur yang akan kita lalui mendaki gunung lewat sungai dan sawah.

Perjalanan Melewati Sawah

Perjalanan Melewati Sawah (EmilSalim27)

Air Terjun Tassimbung (EmilSalim27)

Air Terjun Tassimbung (EmilSalim27)

Setelah berjalan ±1 km melewati pendakian semak belukar dan sawah-sawah kami sampai di air terjun tassimbung (bersusun) yang lumayan indah dan membayar rasa lelah kami setelah berjalan cukup jauh.

      Tidak berapa lama menikmati percikan air dan rasa lelah pun hilang kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun massimarangan. perjalanan menuju kesana pun tidak kalah indahnya dengan melewati bebatuan dan sungai-sungai kecil namun jalur yang kami lalui agak sedikit licin karena sebelum kami tiba sempat hujan sehingga jalurnya licin dan terjal. Saran saya sebaiknya menggunakan perlatan yang safety untuk menghindari yang tidak diinginkan dan kalau ada yang ingin berkunjung sebaiknya jangan di musim hujan karena jalur yang dilalui licin becek tidak ada ojek…wkwkw.

Pemandangan (EmilSalim27)

Akhirnya kami pun sampai di tempat yang kami inginkan dan rasa penasaran saya pun terbayarkan dengan keindahan alam dan air terjun Massimarangan.

EmilSalim27

Air Terjun Massimarangan, Gowa. (EmilSalim27)

12803303_1144940092184193_4044617532560441316_nIni mungkin alasan mengapa masyarakat mengatakan ini air terjun cinta karena kolam berbentuk seperti hati (Love).

Ini salah satu Trip yang tidak bisa saya lupakan bersama sahabat bahkan saudara  saya Sunardianto di penghujung bulan februari 2016. Saya menunggu Trip selanjutnya bersama mu lagi bro bahkan bersama sahabat, kawan & teman-teman lain.

Anto & Emil

Gowa 29/02/2016

Mohon maaf apabila dalam My Trip kali ini tokoh dalam cerita mirip Bradpitt….hahaha

Gowa, Senin 29/02/2016


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: