Oleh: emilsalim27 | 13 Mei 2012

Kisah Heroisme Bugis-Makassar di Negeri Siam (Thailand)

Kisah ini diambil dari catatan Claude de Forbin seorang ksatria Prancis, yang dikirim ke Siam (sekarang Thailand) oleh Raja Louis XIV, dengan misi yang amat ambisius dalam hal politik, agama, ilmu, pengetahuan dan ekonomi.

Tahun 1658 – 1659 Phra Narai, raja Siam tercatat memberikan daerah pengungsian bagi 773 orang Minangkabau yang berasal dari Sumatra Barat dan berikutnya pada Tahun 1664, 250 orang (pria, wanita dan anak-anak) tiba dari Makassar dan diberikan hak dan membangun komunitas perkampungan bersebelahan dengan orang-orang Melayu yang sudah lebih dulu menetap.

Akan tetapi keadaan yang damai dan harmonis di Siam waktu itu tidak berlangsung lama, karena seringnya terjadi intrik dan perebutan kekuasan dalam lingkungan keluarga dan kerabat istana. Tidak terkecuali Phra Narai dulunya juga adalah seorang yang merebut kekuasaan dengan cara kekerasan dan berdarah, sehingga ia sadar betul bahwa kekuasaanya tidak berakar dan tidak kuat dukungannya sehingga ia akan gampang pula digulingkan, karena itulah ia mempercayakan pertahanan kerajaannya pada serdadu Prancis yang kala itu sedang berada di Siam atas perintah Raja Prancis. Serdadu Prancis dipimpin oleh Claude de Forbin dengan 6 kapal dan satu detasemen militer yang beranggotakan 636 orang.

Seorang pangeran Makassar (Gowa-Tallo) bernama Daeng Mangalle yang rupanya terlibat dengan konspirasi Melayu, Campa, Makassar dan orang Islam lain di Siam, konspirasi ini akan berencana menyerang istana dan membunuh raja Siam Phra Narai, karena Raja dianggap telah melenceng yaitu menempatkan kepercayaan pada orang asing yaitu Prancis dan Misi orang asing mengembangkan agama baru kemungkinan lebih buruk lagi Raja akan berpindah memeluk agama baru.

Rupanya konspirasi ini sudah tercium oleh sang raja, sehingga dengan cepat Phra Narai memperkuat pertahanan istananya dengan menempatkan pasukan Prancis tersebut serta meminta dukungan dari orang asing lainnya. Daeng Mangalle menolak meminta pengampunan dari Raja dan menyangkal keterlibatannya dalam persekongkolan tersebut.

Karena menolak akhirnya raja memerintahkan Forbin untuk mengepung kapal-2 orang Makassar yang berniat meninggalkan Siam. Kontak senjata pertama terjadi 40 orang Makassar menghadapi serdadu Prancis dan Portugis dimana orang-orang Makassar menyerang mereka dengan mengerikan mengejar pasukan Prancis dan Portugis sejengkal demi sejengkal tanah yang dilewati menjadi ladang pembantian, wanita, anak-anak semua dibunuh tanpa kecuali. Enam orang Makassar menyerang Pagoda dan membunuh biawarawan disana, tercatat pasukan Eropa-Siam kehilangan 366 orang dan belum lagi korban penduduk sipil.

Kontak kedua terjadi lagi saat tanggal 23 September 1686, raja memerintahkan serangan besar-besaran ke perkampungan orang Makassar. Akhirnya prinsip orang Bugis Makassar menghadapi tantangan “Sekali Layar Berkembang Pantang Surut Kebelakang” menyadari bahwa sudah tidak ada kemungkinan lain selain bertempur sampai mati,dan setelah menyadari mereka tak akan memenangkan pertempuran, banyak diantara mereka terpaksa membunuh istri dan anak-anaknya untuk menghindarkan keluarga mereka dari perbudakan dan di perkosa. Beberapa kali pasukan Siam harus mundur menghadapi perlawanan orang Makassar yang sangat berani dan nekat.

Bahkan seorang saksi Sejarah Peristiwa ini Menuliskan Kekaguman Mendalam Terhadap Orang-Orang Makassar, Belum pernah ia melihat ada bangsa yang seberani Bangsa Makassar, ia melihat Orang Makassar itu sudah terkapar bersimbah darah dan di Injak- injak oleh tentara Siam dan Perancis, tetapi dengan seketika Orang Makassar yang sudah terkapar dan bersimbah darah itu Bangkit dan Membunuh dua Orang tentara Perancis yang ada di dekatnya, lalu kemudian ia mati perlahan-lahan.

Daeng Mangalle sendiri terluka dengan lima tusukan tombak dan setelah tangannya tertembak langsung menerjang menteri Siam dan membunuh seorang Inggris. Demikianlah akhir dari pertempuran itu 22 orang Makassar akhirnya menyerah dan 33 orang prajurit Makassar dikumpulkan. Perlakuan terhadap orang Makassar yang tersisa sungguh tak terperikan kejamnya, ada yang dikubur hidup-hidup, berdiri sampai leher dan mati setelah diperlakukan dan di cemohkan serta dihinakan tanpa belas kasihan.

Peristiwa di Siam ini benar-benar membuat penduduk setempat kagum akankeberanian kenekatan orang-orang Makassar menghadapi tentara yang berjumlah ribuan dengan senjata lebih lengkap sementara orang Makassar hanya bersenjatakan tombak dan badik, selama pertempuran itu 1000 orang siam dan 17 orang asing tewas mengenaskan.

Sumber : Buku “Orang Indonesia & Orang Prancis, dari abad XVI sampai XX”, karya Bernard Dorleans (Edisi bahasa Indonesia,KPG, 2006).


Responses

  1. Mantap🙂
    Tambah tau lagi dekh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: